web widgets

Rabu, 23 Oktober 2013

DIGITAL RADIOGRAFI


Digital radiografi adalah sebuah bentuk pencitraan sinar_X, dimana sensor-sensor sinar-X digital digunakan menggatikan film fotografi konvensional. Dan processing kimiawi digantikan dengan sistem komputer yang terhubung dengan monitor atau laser printer.

1. Komponen Digital Radiography

Sebuah sistem digital radiographi terdiri dari 4 komponen utama, yaitu X-ray source, detektor, Analog-Digital Converter, Computer, dan Output Device.

a. X-ray Source

Sumber yang digunakan untuk menghasilkan X-ray pada DR sama dengan sumber X-ray pada Coventional Radiography. Oleh karena itu, untuk merubah radiografi konvensional menjadi DR tidak perlu mengganti pesawat X-ray.

b. Image Receptor

Detektor berfungsi sebagai Image Receptor yang menggantikan keberadaan kaset dan film. Ada dua tipe alat penangkap gambar digital, yaitu Flat Panel Detectors (FPDs) dan High Density Line Scan Solid State Detectors.

1) Flat Panel Detectors (FPDs)

FPDs adalah jenis detektor yang dirangkai menjadi sebuah panel tipis. Berdasarkan bahannya, FPDs dibedakan menjadi dua, yaitu

a) Amorphous Silicon

Amorphous Silicon (a-Si) tergolong teknologi penangkap gambar tidak langsung karena sinar-X diubah menjadi cahaya. Dengan detektor-detektor a-Si, sebuah sintilator pada lapisan terluar detektor (yang terbuat dari Cesium Iodida atau Gadolinium Oksisulfat), mengubah sinar-X menjadi cahaya. Cahaya kemudian diteruskan melalui lapisan photoiodida a-Si dimana cahaya tersebut dikonversi menjadi sebuah sinyal keluaran digital. Sinyal digital kemudian dibaca oleh film transistor tipis (TFT’s) atau oleh Charged Couple Device (CCD’s). Data gambar dikirim ke dalam sebuah computer untuk ditampilkan. Detektor a-Si adalah tipe FPD yang paling banyak dijual di industri digital imaging saat ini.

b) Amorphous Selenium (a-Se)

Amorphous Selenium (a-Se) dikenal sebagai detektor langsung karena tidak ada konversi energi sinar-X menjadi cahaya. Lapisan terluar dari flat panel adalah elektroda bias tegangan tinggi. Elektrode bias mempercepat energi yang ditangkap dari penyinaran sinar X mealui lapisan selenium. Foton-foton sinar-X mengalir melalui lapisan selenium menciptakan pasangan lubang electron. Lubang-lubang elektron tersebut tersimpan dalam selenium berdasarkan pengisian tegangan bias. Pola (lubang-lubang) yang terbentuk pada lapisan selenium dibaca oleh rangakaian TFT atau Elektrometer Probes untuk diinterpretasikan menjadi citra.

2) High Density Line Scan Solid State device

Tipe penangkapan gambar yang kedua pada DR adalah High Density Line Scan Solid State device. Alat ini terdiri dari Photostimulable Barium Fluoro Bromide yang dipadukan dengan Europium (BaFlBr:Eu) tatu Fosfor Cesium Bromida (CsBr).

Detektor fosofor merekam energi sinar-X selama penyinaran dan dipindai (scan) oleh sebuah dioda laser linear untuk mengeluarkan energi yang tersimpan yang kemudian dibaca oleh sebuah penangkap gambar digital Charge Coupled Devices (CCD’s). Image data kemudian ditransfer oleh Radiografer untuk ditampilkan dan dikirim menuju work stasion milik radiolog.

c. Analog to Digital Converter

Komponen ini berfungsi untuk merubah data analog yang dikeluarkan detektor menjadi data digital yang dapat diinterpretasikan oleh komputer.

d. Komputer

Komponen ini berfungsi untuk mengolah data, manipulasi image, menyimpan data-data (image), dan menghubungkannya dengan output device atau work station.

e. Output Device

Sebuah sistem digital radiografi memiliki monitor untuk menampilkan gambar. Melaui monitor ini, radiografer dapat menentukan layak atau tidaknya gambar untuk diteruskan kepada work station radiolog.

Selain monitor, output device dapat berupa laser printer apabila ingin diperoleh data dalam bentuk fisik (radiograf). Media yang digunakan untuk mencetak gambar berupa film khusus (dry view) yang tidak memerlukan proses kimiawi untuk mengasilkan gambar.

Gambar yang dihasilkan dapat langsung dikirimkan dalam bentuk digital kepada radiolog di ruang baca melaui jaringan work station. Dengan cara ini, dimungkinkan pembacaan foto melaui teleradiology.

Pesawat Digital Radiography
2. Prinsip Kerja

Prinsip kerja Digital Radiography (DR) atau (DX) pada intinya menangkap sinar-X tanpa menggunakan film. Sebagai ganti film sinar X, digunakan sebuah penangkap gambar digital untuk merekam gambar sinar X dan mengubahnya menjadi file digital yang dapat ditampilkan atau dicetak untuk dibaca dan disimpan sebagai bagian rekam medis pasien.

COMPUTER RADIOGRAFI


Computer Radiografi (CR) merupakan suatu sistem atau proses untuk mengubah sistem analog pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi. Computer Radiografi (CR) mempunyai perlengkapan operasional yang terdiri dari :

a). Imaging Plate 

Imaging plate merupakan media pencatat sinar-X pada Computer Radiografi yang terbuat dari bahan photostimulable phosphor tinggi. Dengan menggunakan Imaging plate memungkinkan processor gambar untuk memodifikasi kontras. 

Imaging plate berada dalam kaset Imaging. Fungsi dari Imaging plate adalah sebagai penangkap gambar dari objek yang sudah di sinar (ekspose). Prosesnya adalah pada saat terjadinya penyinaran, Imaging plate akan menangkap energi dan disimpan oleh bahan phosphor yang akan dirubah menjadi Electronic Signal dengan laser scenner dalam image reader.

b). Image reader 

Image reader berfungsi sebagai pembaca dan mengolah gambar yang diperoleh dari Image plate. Semakin besar kapasitas memorinya maka semakin cepat waktu yang diperlukan untuk proses pembacaan Image plate, dan mempunyai daya simpan yang besar. Waktu tercepat yang diperlukan untuk membaca imaging plate pada image reader yaitu selama 64 detik. 

Selain tempat dalam proses pembacaan, Image reader mempunyai peranan yang sangat penting juga dalam proses pengolahan gambar, sistem transportasi Image plate serta penghapusan data yang ada di Image plate. Image reader sudah dilengkapi dengan monitor yang berfungsi untuk menampilkan gambar yang sudah di baca oleh Image reader disebut dengan image console. 

Image console berfungsi sebagai media pengolahan data, berupa computer khusus untuk medical imaging dengan touch screen monitor. Image console dilengkapi oleh bebagai macam menu yang menunjang dalam proses editing dan pengolahan gambar sesuai dengan anatomi tubuh, seperti kondisi hasil gambaran organ tubuh, kondisi tulang dan kondisi soft tissue. 

Terdapat menu yang sangat diperlukan dalam teknik radiofotografi yaitu kita bisa mempertinggi atau mengurangi densitas, ketajaman, kontras dan detail dari suatu gambaran radiografi yang diperoleh.

d). Image recorder 

Image recorder mempunyai fungsi sebagai proses akhir dari suatu pemeriksaan yaitu media pencetakan hasil gambaran yang sudah diproses dari awal penangkapan sinar-X oleh image plate kemudian di baca oleh image reader dan diolah oleh image console terus dikirim ke image recorder untuk dilakukan proses output dapat berupa media compact disc sebagai media penyimpanan.atau dengan printer laser yang berupa laser imaging film.

e). Personal Computer (PC) 

Komputer berasal dari bahasa latin yaitu computare yang berarti menghitung. Komputer adalah sistem elektronik yang dapat menerima input data, dapat mengolah data, dapat menerima informasi, menggunakan suatu prograng yang tersimpan didalam memori komputer, dapat menyimpan program dan hasil pengolahan dan bekerja secara otomatis dibawah pengawasan suatu langkah-langkah instruksi-instruksi program yang tersimpan di memori. (Yulikuspartono. 1997) 

Pada zaman sekarang ini, komputer tidak lagi seperti barang mewah melainkan barang kebutuhan yang harus dimiliki. Banyak sekali yang dapat dilakukan dengan menggunakan komputer, dari mulai menghitung, membuat tulisan, sampai membuat film dan memanipulasi suatu gambar.

Senin, 07 Oktober 2013

APLIKASI KOMPUTER PADA PENCITRAAN DIGITAL


Dalam kehidupan kita sekarang ini peran computer sangatlah penting. Hampir dalam semua sisi kehidupan kita tidak terlepas dari computer. Dalam dunia pendidikan, kesehatan, keamanan, perdagangan dan bidang-bidang lainnya semuanya mengandalkan kemampuan computer. Dengan computer akan memperlancar pekerjaan-pekarjaan kita, memperpendek waktu pencapaian pekerjaan, akan muncul inovasi-inovasi baru, juga dengan bantuan computer akan menekan biaya produksi. Dalam dunia kesehatan disamping memperlancar pekerjaan, yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan keakurasian dalam menegakkan diagnose.

Radiologi sebagai salah satu elemen penegak diagnose, didalam menjalankan fungsinya tidak terlepas dari peran computer. Banyak peralatan radiologi dibuat dengan basic computer seperti Pesawat Rontgen dengan pengaturan parameter expose digital, USG, CT-Scann dan MRI. Dengan teknologi computer ini peralatan radiologi perkembang dengan cepat. Bahkan karena cepatnya perkembangan peralatan radiologi yang berbasic computer, kita yang ada di negeri ini sulit untuk mengikuti perkembangan itu, peralatan radiologi yang sampai ke kita dianggap oleh orang-orang barat sebagai teknologi yang sudah ketinggalan zaman.
Salah satu kelebihan computer di bidang radiologi adalah kemampuan mengolah gambar/citra digital. Sehingga gambar yang akan kita cetak dalam film bisa disesuaikan dengan keinginan kita tanpa adanya pengambilan gambar ulang. Dengan pengaturan pengaturan skala keabuan, kecerahan dan lain-lain. Gambar yang tadinya kurang informative menjadi informative untuk menegakkan diagnose. Gambar yang tadinya over expose atau under expose sehingga kurang informative bisa diolah menjadi gambar yang informative. Mengapa gambar/citra digital bisa kita ubah-ubah sesuai dengan keinginan kita. Untuk bisa memahami hal ini kita harus mengetahui dasar-dasar dari citra digital. Adapun dasar-dasar citra digital adalah :
A.      Pengertian Citra
citra (image) adalah gambar pada bidang dwimatra (dua dimensi). Pada dasarnya citra yang dilihat terdiri atas berkas-berkas cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda disekitarnya, jadi secara alamiah fungsi intensitas cahaya merupakan fungsi sumber cahaya yang menerangi obyek, serta jumlah cahaya yang dipantulkan oleh obyek. Sumber cahaya menerangi objek, objek memantulkan kembali sebagian dari berkas cahaya tersebut. Pantulan cahaya iniditangkap oleh oleh alat-alat optik, misalnya mata pada manusia, kamera,pemindai (scanner), dan sebagainya, sehingga bayangan objek yang disebut citratersebut terekam.

Citra sebagai keluaran dari suatu sistem perekaman data dapat bersifat :
1.       Optik berupa foto,
2.       Analog berupa sinyal video seperti gambar pada monitor televisi,
3.       Digital yang dapat langsung disimpan pada suatu pita magnetic

Citra digital dapat didefinisikan sebagai fungsi dua variabel, f(x,y), dimana xdan adalah koordinat spasial dan nilai f(x,y) adalah intensitas citra pada koordinat tersebut



Pixel




Beberapa penulis menjelaskan piksel sebagai sel gambar . Contoh di atas menunjukkan sebuah gambar dengan porsi yang sangat diperbesar, di mana individu piksel diterjemahkan sebagai kotak kecil. pixel adalah unit terkecil dari gambar yang dapat dikendalikan. Setiap piksel memiliki alamat sendiri. Alamat dari sebuah pixel yang sesuai dengan koordinat. Pixel biasanya disusun dalam pola dua dimensi, dan sering direpresentasikan menggunakan titik atau kotak. Intensitas dari masing-masing pixel adalah variabel. Dalam sistem gambar berwarna, warna biasanya diwakili oleh tiga atau empat intensitas komponen seperti merah, hijau dan biru atau cyan, magenta, kuning dan hitam.

Dasar warna
RGB adalah suatu model warna yang terdiri dari merah, hijau, dan biru, digabungkan dalam membentuk suatu susunan warna yang luas. Setiap warna dasar, misalnya merah, dapat diberi rentang-nilai. Untuk monitor komputer, nilai rentangnya paling kecil = 0 dan paling besar = 255. Pilihan skala 256 ini didasarkan pada cara mengungkap 8 digit bilangan biner yang digunakan oleh mesin komputer. Dengan cara ini, akan diperoleh warna campuran sebanyak 256 x 256 x 256 = 1677726 jenis warna. Sebuah jenis warna, dapat dibayangkan sebagai sebuah vektor di ruang 3 dimensi yang biasanya dipakai dalam matematika, koordinatnya dinyatakan dalam bentuk tiga bilangan, yaitu komponen-x, komponen-y dan komponen-z. Misalkan sebuah vektor dituliskan sebagai r = (x,y,z). Untuk warna, komponen-komponen tersebut digantikan oleh komponen R(ed), G(reen), B(lue). Jadi, sebuah jenis warna dapat dituliskan sebagai berikut: warna = RGB(30, 75, 255). Putih = RGB (255,255,255), sedangkan untuk hitam= RGB(0,0,0).

Citra Gray
Graysacale adalah warna-warna piksel yang berada dalam rentang gradasi warna hitam dan putih

Sabtu, 05 Oktober 2013

Teknik Radiografi Mandibula

MANDIBULA

PROYEKSI PA dan PA AXIAL Mandibula

Ukuran Kaset : 24 x 30 cm 
FFD : 90 cm
CR PA : Tegak Lurus bidang film
      PA Axial : 20 - 25 derajat cranially
CP PA : Pertengahan antara kedua bibir
      PA Axial : menembus ujung hidung


Posisi Pasien :

- Pasien diposisikan prone atau duduk
- Tempatkan lengan pasien pada posisi yang nyaman dan atur bahu, sehingga beada pada bidang transversal yang sama
- Letakkan kepala dimana dahi dan hidung pasien menempel pada bidang film. untuk mendapatkan ramus mandibula, pusatkan ujung hidung berada pada pertengahan bidang film
- MSP tegak lurus pada bidang film
- Lakukan fiksasi dengan menggunakan spon dan sandbag untuk mencegah pergerakan dari objek kepala pasien
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jangan lupa gunakan marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan 
- Jangan lupa gunakan grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik
- Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron atau karet timbal
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Mandibula proyeksi PA dan PA axial


 
Kriteria Gambar :


- Kedua ramus dan bodi mandibula terproyeksi sama atau simetris
- Keseluruhan bagian mandibula terproyeksi tidak terpotong
- Pada proyeksi PA Axial, kedua condylus mandibula terproyeksi dengan jelas
- Tampak kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan ukuran objek yang diperiksa
- Tampak marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan.


Teknik Radiografi Processus Mastoideus

PROCESSUS MASTOIDEUS

Ukuran kaset : 24 x 30 cm 
FFD : 90 cm
CR : 15 Derajat caudally
CP : 2.5 cm superior dari ujung processus mastoideus

Posisi Pasien :

- Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan dengan MSP tubuh tepat pada Mid Line meja pemeriksaan
- Kepala diposisikan dari posisi AP hingga membentuk sudut 55 derajat terhadap bidang film ke arah objek yang tidak difoto
- Posisikan Infra Orbito Meatal Line ( IOML ) tegak lurus dengan bidang film
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jangan lupa gunakan marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan 
- Jangan lupa gunakan grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik
- Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron atau karet timbal
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Processus mastoideus

Kriteria Gambar :

- Tampak processus mastoideus di bawah os occipital tanpa superposisi dengan tulang tulang kepala
- Tampak kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan ukuran objek yang diperiksa
- Tampak marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan

Teknik radiografi Ossa Cruris

OSSA CRURIS ( 2 Proyeksi )

Ossa cruris biasa disebut tungkai bawah, didalam tungkai bawah terdapat 2 tulang yaitu os tibia dan os fibula,

tibia ini akrab dikenal sebagai tulang kering. "Tibia" adalah kata Latin yang berarti baik tulang kering dan seruling. Diperkirakan bahwa "tibia" mengacu pada baik tulang dan alat musik karena seruling pernah kuno dari tibia (hewan).

fibula ini berjalan bersama tibia. Kata "fibula" adalah kata Latin yang menunjuk jepit atau bros. fibula itu disamakan dengan orang dahulu ke gesper memasangnya ke tibia membentuk bros.

Proyeksi AP

Ukuran kaset : 30 x 40 cm atau 35 x 43 cm memanjang dibagi 2 (Proyeksi AP dan Proyeksi Lateral)
FFD : 90 cm
CR : Tegak lurus bidang kaset
CP : Pertengahan Os Cruris dengan batas atas knee joint dan batas bawah angkle joint

Posisi pasien : 
- posisikan supine diatas meja pemeriksaan.
- Atur tubuh pasien sehingga pelvis tidak rotasi.
- Atur kaki sehingga condyles femoralis searah dengan kaset atau film dan vertical terhadap kaki.
- Fleksikan pergelangan kaki sampai kaki berada dalam posisi vertical
- Untuk tambahan, gunakan spon atau sandbag agar mencegah pergerakan pada objek
- Lindungi gonat dengan menggunakan apron atau gonad shield



Kriteria gambaran
- Gambaran memperlihatkan kedua persendian dalam satu film. (batas atas knee joint dan batas bawah angkle joint)
- Kedua persendian tidak mengalami rotasi ( knee joint dan angkel joint )
- Artikulo tibia dan fibula tampak overleping sedang.
- Detail dan softissue baik ( gambaran organ baik )
- Tampak marker R atau L pada sisi bawah film sebagai penanda objek sebelah kiri atau kanan
- Tampak label sebagai penanda identitas pasien



Teknik Radiografi Genue

GENUE ( 2 Posisi )


PROYEKSI  AP


Ukuran Kaset :  24 x 30 cm melintang di bagi 2 ( Posisi AP dan Lateral )
FFD : 90 cm
CR : Vertikal tegak lurus kaset atau film
CP : Pada pertengahan patella

Posisi Pasien :

- Atur pasien pada posisi supine diatas meja pemeriksaan atau pasien berdiri menghadap x-ray tube dan pastikan tidak ada rotasi atau pergerakan pada panggul pasien.
- Dengan kaset dibawah lutut pasien, lokasikan bagian apex patella, dan setelah itu pasien diinstruksikan untuk meregangkan bagian lututnya. Pusatkan kaset sekitar setengah inci di bawah apex patella. dan pusatkan bagian tengah kaset pada bagian tengah persendian lutut.
- Lindungi  area gonad pasien dari radiasi hambur dengan menggunakan karet dari timbal atau apron






Kriteria Gambar :

Berikut ialah beberapa hal yang wajib tercakup dalam radiografi lutut proyeksi AP :
- Terbukanya persendian femorotibial
- Tidak ada rotasi tulang paha dan tibia
- Tampak patella terproyeksi pada bagian pertengahan kaset

Teknik Radiografi Os. Calcaneus

Os. Calcaneus ( 2 Posisi )
Os. Calcaneus termasuk salah satu ketujuh Os. Tarsalia yang bersatu membentuk tulang – tulang kaki. Pemeriksaan radiografi calcanues ada 2 yaitu :



PROYEKSI AP AXIAL 



Ukuran Kaset : 18 x 24 cm  melintang di bagi 2 ( Proyeksi AP Axial dan Lateral )
FFD : 90 cm
CR AP Axial : 40 derajat cranially 
CP AP Axial :  pada pertengahan Os Calcaneus


















Posisi Pasien :

- Atur pasien dalam posisi supine diatas meja pemeriksaan dengan mengatur tungkai bawah full ekstensi
- Letakan kaset pada pergelangan kaki pasien .
- Pusatkan pertengahan kaset pada pertengahan pergelangan kaki.
- Untuk tambahan gunakan spon atau sandbag agar mencegah pergerakan pada objek
- Shield gonad


Kriteria Gambar :

- Tampak Os. Calcaneus dalam posisi planto-dorsal.
- Tampak marker R atau L pada sisi film.
- Tidak ada rotasi pada Os. Calcaneus.

Teknik Radiografi Sela Tursica

SELA TURSICA

PROYEKSI  LATERAL
(Merril's Atlas ; Philip W Ballinger)

Ukuran Kaset : 18 x 24 cm 
FFD : 90 cm 
CR : tegak lurus bidang film
CP : 2 cm anterior dan 2 cm superior dari MAE

Posisi Pasien :

- Pasien diposisikan duduk tegak atau semi prone
- MSP tubuh sejajar dengan bidang film dengan kepala diposisikan true lateral
- kepala diposisikan true lateral dengan menempatkan MSP kepala sejajar dengan bidang film dan garis interpupilary tegak lurus dengan bidang film
- Atur kedua bahu agar berada pada bidang transversal yang sama
- Atur kepala sehingga garis IOML sejajar dengan garis khayal horizontal film
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jangan lupa gunakan marker R atau L sebagai penanda objek kiri atau kanan 
- Jangan lupa gunakan grid untuk menyerap radiasi hambur supaya gambaran yang dihasilkan baik
- Lindungi gonad pasien dengan menggunakan apron atau karet timbal
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Sela Tursica





Kriteria Gambar : 


- Tampak sela tursica proyeksi lateral dipertengahan film
- Processus Clinoideus anterior kiri dan kanan superposisi
- Processus Clinoideus posterior kiri dan kanan superposisi
- Dorsum sellae dan clivus blumenbachi
- Tampak kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan ukuran objek yang diperiksa
- Tampak marker R atau L sebagai penanda objek kanan atau kiri


*

Teknik Radiografi Os Nasal

OS NASAL

PROYEKSI LATERAL

Ukuran Kaset : 18 x 24 cm memanjang
FFD : 90 cm
CR : Vertikal tegak lurus bidang film
CP : Pada pertengahan os nasal

Posisi Pasien :

- Pasien diposisikan semiprone atau duduk dengan kepala diposisikan true lateral
- Kepala diposisikan true lateral sehingga MSP kepala sejajar dengan bidang film
- IPL tegak lurus bidang film
- Upayakan nasal bone pada pertengahan film
- Atur luas kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai objek yang akan di foto, tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil
- Jika posisi pasien sudah siap seluruhnya, lakukan eksposi dengan faktor eksposi yang sudah ditentukan untuk pemotretan Os Nasal dengan proyeksi Lateral




Kriteria Gambar :

- Tampak os nasal proyeksi lateral dipertengahan film
- Tidak terjadi perputaran struktur os nasal
- Tampak struktur soft tissue nasal
- Tampak kolimasi atau luas lapangan penyinaran sesuai dengan ukuran objek yang diperiksa.